Desire #1 : Tribute To Nirvana


​Era 90-an memang dikenal sebagai masa kejayaan bagi musik alternatif, dimana banyak band-band alternatif di Amerika Serikat dan Inggris yang menjadi populer setelah dilirik dan direkrut oleh label major pada masa itu. Bahkan di Indonesia sendiri pada era keemasan musik alternatif ini muncul banyak band yang memainkan musik tersebut.

Untuk merayakan kembali masa kejayaan tersebut, Desire yang merupakan kelanjutan aktifitas dari Ruang Alternatif akan digelar dengan mengangkat konsep tribute event. Meskipun dengan konsep tribut event, penampil yang mengisi gelaran ini tidak hanya akan membawakan lagu-lagu cover melainkan juga membawakan lagu-lagu milik mereka sendiri.
Pada edisinya yang perdana ini Desire mengambil tema “Tribute To Nirvana”, dimana tema ini dipilih untuk mengajak bernostalgia mereka yang tumbuh bersama musik era 90-an, serta memberikan penghormatan kepada Kurt Cobain dan Nirvana yang merupakan salah satu dari sekian banyak penanda revolusi musik dunia di awal era 90-an.
Diselenggarakan pada Minggu, 21 Mei 2017 di Keenanion Music Studio (Jl.Cangkring 2 No.6, Cirebon) gelaran Desire #1 : Tribute To Nirvana akan ada tiga grup musik yang ikut meramaikan. Penonton akan disuguhkan dengan penampilan dari unit industrial rock dengan lirik yang tajam asal Cirebon Toreh, kelompok alternative rock 90-an Beach Head dan kebisingan noise rock yang menyalak dari Puppyhansen.
Tidak hanya pertunjukan musik, gelaran ini juga menyajikan screening film dokumenter Kurt Cobain dan Nirvana, memorabilia showcase yang merespon “Tribute To Nirvana” dan music market place berupa lapak rilisan fisik dan cinderamata yang berkaitan dengan musik sehingga penonton yang hadir mempunyai pilihan selain menonton pertunjukan musik.
Sebuah tribute event memang tidak dapat dijadikan sebagai indikator majunya scene di suatu kota, namun diharapkan gelaran Desire ini dapat menjadi ruang temu dan komunikasi bagi penggiat, pelaku dan penikmat aktifitas seni kreatif lintas generasi di Cirebon yang sedang tumbuh dan berkembang sehingga diharapkan melalui gelaran Desire ini akan semakin banyak lagi kelompok dan aktifitas seni kreatif yang lahir dan konsisten.

Cirebon Turut Merayakan Record Store Day 2017

RECORD STORE DAY 2017

“Cirebon Chapter”
Sunday, 23 April 2017

at Keenanion Music Studio

(Jl.Cangkring 2 No.6, Cirebon)

1 PM – Happy
BOOTH RECORD LABEL & RECORD STORE
WORKSHOP:

Perawatan Kaset
HEARING SESSION:

Koleksi Rilisan Fisik
SHARING SESSION:

Dokumentasi Rilisan Fisik
TRADE:

Barter Rilisan Fisik
Info:

Felix +62 898-5165-188

Wawan Gentar +62 898-4556-706

Creative Youth Culture #3

RA Project x Ruang Alternatif Present:

CREATIVE YOUTH CULTURE #3
In conjunction with “Heals Spectrum Java – Bali Tour 2017”

With:

Heals

Rübezahl

Puppyhansen

The Flight of Maltanese

Sunny Sundae

Ira Bohong

Sunday, 16 April 2017

at Famouz Cafe (Jl.Tuparev 88, Cirebon)

Start: 5 PM
BAWALAH BUKU BACAAN (BARU/BEKAS) SEBAGAI TIKET MASUK
Info:

089664641401 (Wildan)
Supported by:

Famouz Cafe

Blankon Coffee & Culinery

NARA Sound

Keenanion Music Studio

Jag’s Studio & Recordings

Microgram Entertainment

Ouval Research

Everyday Sunday

K9 Project

Fasticook

Terajeh Coffee
Media Partner:

Cirebon Cult.

Papernoise

People Are People

The Display Net

Wastedrockers

Ripstore.Asia

Macca Magazine

Kanaltigapuluh

Mesinsuara

Indie Cirebon

Cirebon Bribin

Keliling Cirebon

About Indramayu

Kuningan Asri

Besoksenin.co
Poster by:

Arut Batan (kosongsegitiga)

Heals Gelar Tour Jawa – Bali

Setelah merilis debut album mereka yang berjudul Spectrum pada hari Minggu lalu, kini Heals akan memulai rangkaian tur mereka yang bertajuk Heals Spectrum Java – Bali Tour 2017.

Berikut adalah rangkaian kota dan venue yang menjadi destinasi tur mereka.

13/4 – Yogyakarta, Canting 

14/4 – Semarang, Rustico Kitchen & Bar

16/4 – Cirebon, Famouz Cafe

27/4 – Solo, Pined Peridgee Rooftop

28/4 – Surabaya, Colors

29/4 – Malang, Houtenhand 

1 /  5 – Denpasar, TBA

Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon

Menjadi warga pada sebuah kota yang memiliki brand kreatif bisa memberikan kebanggaan tersendiri, disamping itu juga tentunya dapat sebagai sarana promosi produk atau jasa hasil kreatifitas serta meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat kotanya.

Bermunculannya kota kreatif di Indonesia belakangan ini merupakan sebuah perkembangan positif bagi dasar perekonomian kreatif, salah satunya Cirebon.

Meskipun geliatnya belum terlalu masif, namun Cirebon tetap mempunyai khas dalam pergerakan anak mudanya di bidang ini.

Terlepas dari hal tersebut, Cirebon selalu ada dalam deretan kota di Jawa Barat yang harus disinggahi oleh para pelaku industri kreatif. Belakangan ini Cirebon mencoba menyuguhkan acara-acara yang cukup membuat antusias anak mudanya kembali menggeliat dengan harapan bisa membawa semangat dan pergerakan anak muda Cirebon agar produktif. Dan tentunya dengan tetap menjalin kerjasama dengan para pelaku industri kreatif dari kota-kota besar sebagai acuan dan berbagi pengalaman.

Atas dasar itulah sebuah acara yang bertajuk “Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon” akan digelar dengan harapan bisa bersinergi dan untuk menumbuhkan generasi penggiat kreatif di Cirebon.

Acara ini akan diselenggarakan pada hari Minggu, 9 April 2017 di Umah Kebon Metland Hotel Cirebon. 

Beberapa konten acara pun akan dihadirkan dalam pagelaran tersebut diantaranya ada photo exhibiton dengan beragam tema oleh komunitas foto Klise Unswagati. Selain itu ada penampilan musik dari Danilla yang perdana manggung di Cirebon, Hanyaterra dan Klopediakustik akan menjadi band yang ikut meramaikan gelaran Suburbia kali ini. 

Acara ini khusus untuk mereka yang berusia 18 tahun ke atas dengan tiket seharga Rp. 50.000,- sebagai compliment first drink charge. Tentu saja pengunjung akan dimanjakan oleh dekorasi-dekorasi unik agar bisa menikmati acara ditambah kondisi tempat pun memberikan suasana yang nyaman layaknya halaman belakang rumah.

Suburbia sendiri diharapkan menjadi tolak ukur bagi pergerakan komunitas kreatif di Cirebon dan diharapkan menjadi sesuatu yang baru agar ke depannya Cirebon menjadi destinasi wajib bagi para musisi dan pelaku kreatif lainnya untuk menyebarkan karyanya.

(Angga Badilz)

Dalam Rangka Satu Tahun EP ‘Kircland’, Unit Indie Rock Asal Bandung The Schuberts Merilis Video Musik Single Kedua ‘Taken Aback’

The Schuberts Photo 2.jpg

Setelah merilis EP perdananya pada bulan Februari 2016 lalu, unit indie rock asal Bandung, The Schuberts, kembali menunjukkan eksistensi mereka di industri musik lokal dengan merilis video musik ‘Taken Aback’. Perilisan video musik ini bertepatan dengan satu tahun rilisnya EP perdana mereka yang diberi tajuk ‘Kircland’. Video musik ini diangkat dari single kedua dan sekaligus merupakan tantangan baru bagi mereka, karena ini merupakan kali pertama bagi band yang terbentuk pada tahun 2010 ini dalam menggarap video musik.

Secara garis besar, ‘Taken Aback’ bercerita mengenai suatu kesedihan. “Lirik lagu ini memang menceritakan mengenai curahan hati seseorang yang berasal darikeluarga broken home, dan kekesalannya terhadap sang Ibu yang membuat keluarganya rusak.” ujar Bahmaniar Ryou, vokalis dari The Schuberts. Walaupun liriknya bercerita akan suatu kesedihan, The Schuberts ingin menyampaikannya secara berbeda, yaitu melalui pengemasan vibe yang ceria, bertolak belakang dengan lirik yang disampaikan.

‘Taken Aback’ sendiri merupakan lagu yang The Schuberts anggap sebagai titik temu terhadap genre musik yang pada akhirnya mereka angkat dan merepresentasikan nada dan rasa yang mereka cari. Penggarapan lagu ini cukup sederhana, berawal dari kisah yang digagas Ryou dan Satrio yang kemudian dikembangkan oleh personil lainnya, dan pada akhirnya menghasilkan sebuah lagu dengan progresi chord yang simple dengan vokal dan lirik yang easy listening.

Hampir seluruh aspek produksi yang berhubungan dengan EP ‘Kircland’ dikerjakan dengan sistem kekeluargaan dan pertemanan. “Begitu pula dengan video musik ‘Taken Aback’ ini, semuanya dibantu oleh teman-teman terdekat kami,” sahut Ryou. Mulai dari pengangkatan Herin Damara, sebagai sutradara (yang juga merangkap sebagai cameraman director of photography), seluruh crew yang membantu proses shooting, hingga Jovanka R. Alexandra yang menjadi model dalam video musik ini, merupakan teman dekat para personil. Adapun konsep dan storyboard video musik ini dibuat oleh The Schuberts dan Herin.

The Schuberts, yang digawangi oleh Bahmaniar Ryou (vocal / guitar), Iqra Sadra (guitar), Lutfi Handika (bass), dan Satrio Adi (drum), telah merilis EP ‘Kircland’ pada Februari 2016 lalu dengan single pertama ‘Restless Hour’. Melalui single kedua dan video musik ‘Taken Aback’ ini, The Schuberts ingin memperkenalkan musik mereka secara lebih luas kekhalayak banyak. Setelah merilis video musik ini, The Schuberts akan merilis full album yang rencananya akan dirilis pada pertengahan tahun 2017 ini.

Video musik ‘Taken Aback’ dapat dilihat melalui kanal Youtube resmi The Schuberts: